Sabtu, 12 Februari 2011
Jumat, 11 Februari 2011
10 Kebohongan cowo dan cewe
Manusia pasti pernah berbohong, setidaknya sesekali dan untuk kebohongan yang polos sekalipun. Sebuah riset di Inggris mengungkap bahwa pria lebih sering berbohong ketimbang wanita.Sebuah studi yang dilangsungkan oleh London's Science Museum menemukan bahwa rata-rata pria mengucap 1.092 kebohongan setiap tahun atau sekitar tiga kali per hari. Sementara wanita umumnya berbohong sekitar 728 kali per tahun atau sekitar dua kali sehari.
Di negara asal studi ini dilangsungkan, pria berbohong mengenai kebiasaan tak sehat mereka, sementara wanita berbohong tentang keadaannya dengan kalimat "Aku nggakkenapa-kenapa, kok" atau "Aku baik-baik aja." Padahal, kenyataannya kebalikannya.
Menurut salah seorang dari tim peneliti itu, Katie Maggs, berbohong merupakan bagian dari interaksi sosial kita. "Berbohong menjadi hal yang tak terhindarkan dalam keseharian manusia dan bisa jadi merupakan bagian yang penting dalam interaksi sosial kita," ia menjelaskan.
Namun, belum diketahui apakah kebiasaan berbohong itu merupakan hasil dari gen, evolusi, atau cara kita dibesarkan. Dari sekitar 3.000 relawan diketahui, kita paling sering berbohong kepada ibu kita. Sebanyak 25 persen pria dan 20 persen wanita mengakui hal ini. Mengenai kebohongan itu juga, 82 persen wanita merasa termakan rasa bersalah akibat kebohongan yang mereka ucapkan. Sementara hanya 70 persen pria yang merasa bersalah dari kebohongan mereka.
Apa saja sih kebohongan yang paling sering diucapkan pria kepada pasangannya? Berikut ini di antaranya:
1. Saya enggak banyak minum/merokok/kebiasaan buruk yang ia janji hentikan.
2. Enggak ada yang salah. Saya baik-baik saja.
3. Duh, sinyalnya buruk, nih.
4. Enggak terlalu mahal, kok.
5. Saya sudah di jalan.
6. Saya kejebak macet.
7. Enggak, kok, kamu enggak kelihatan gemuk.
8. Maaf, telepon kamu enggak kedengaran.
9. Kamu kelihatan kurusan.
10. Saya suka hadiah kamu, saya memang kepengin itu.
Bagaimana dengan wanita? Ini daftarnya:
1. Tidak ada yang salah, kok. Saya baik-baik saja.
2. Saya enggak tahu barang itu di mana, saya enggak pegang, kok.
3. Enggak terlalu mahal, kok.
4. Saya enggak banyak minum/merokok/kebiasaan buruk yang ia janji hentikan.
5. Saya lagi pusing.
6. Tadi lagi sale.
7. Saya sudah di jalan.
8. Wah, saya sudah punya barang itu sejak lama.
9. Saya enggak buang, kok.
10. Saya suka hadiah kamu, saya memang kepingin itu.
(Sumber : http://female.kompas.com/read/2011/01/14/18551845/10.dusta.tersering.diucapkan.pria )
3 Alasan Anda Harus PDKT Duluan
Ketika masih remaja, Anda mungkin termasuk orang yang selalu diwanti-wanti oleh ibu Anda, bahwa Anda tidak boleh bertindak agresif terhadap teman pria. Agresif dimaknai sebagai tindakan mendekati pria lebih dulu, atau sering jalan dengan teman-teman pria saja. Bahkan sebagai perempuan, Anda dianggap tak pantas bila menunjukkan bahwa Anda tertarik dengan seorang pria. Anda harus menunggu hingga pria tersebut yang melakukan inisiatif untuk mendekati Anda.
Dalam kenyataannya, Anda tidak selalu bisa mengandalkan seorang pria untuk melakukan inisiatif. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa seorang pria tidak ingin melakukan pendekatan lebih dulu, sehingga akan lebih baik bila Anda yang melakukan inisiasi. Berikut beberapa alasan yang dipaparkan Theo Pauline Nestor, penulis How to Sleep Alone in a King-Size Bed: A Memoir of Starting Over, mengapa Anda harus PDKT lebih dulu:1. Ia tidak pintar flirting
Ada suatu ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengawali suatu hubungan, menggoda misalnya. Kemudian ada pula ketrampilan lain yang diperlukan untuk membina hubungan yang sudah berlangsung. Pria yang Anda incar mungkin saja sangat bisa diandalkan untuk membina hubungan, namun ia bukan tipe pria yang gemar menggoda sana-sini. Bila memaksakan diri untuk menggoda, pria seperti ini justru membuat Anda kesan, atau takut. Karena itu, bila Anda tahu ia memang tidak berbakat flirting, Anda lah yang harus berinisiatif.
2. Ia merasa sedikit terintimidasi
Seringkali orang salah mengartikan sikap Anda, dan keburu menyebarkan "berita buruk" mengenai diri Anda. Misalnya, Anda mendengar seorang teman melarang pria incaran Anda mendekati Anda, dengan mengatakan, "Jangan coba-coba dekati si Sari. Dia kan dingin gitu, orangnya." Atau, "Dia itu pendiam, dia agresif, dia maunya sama yang kaya," dan lain sebagainya. Omongan yang menyesatkan seperti itu tentu akan membuat Anda resah, karena tidak sesuai dengan diri Anda. Sayangnya, ucapan negatif lebih mudah terekam dalam pikiran siapa saja, tak terkecuali pria. Akibatnya, si dia merasa terintimidasi, dan enggan mendekati Anda.
Bila Anda mengetahui hal ini, jangan ragu untuk mulai mendekatinya. Tunjukkan bahwa Anda tidak seperti yang dikatakan orang.
3. Ia pernah diperlakukan kurang baik dalam hubungannya di masa lalu
Mungkin Anda akan berpikir, jika seorang pria memang serius ingin bersama Anda, seharusnya ia mau lebih berusaha untuk mendekati Anda. Namun sebelum Anda menganggapnya kurang berani, coba cari tahu apa yang terjadi pada hubungannya di masa lalu. Apakah ia pernah ditolak dengan sadis, pernah menjalani hubungan yang sangat lama namun berakhir menyedihkan, apapun yang membuatnya ragu untuk mulai berkencan lagi.
Mungkin Anda akan berpikir, jika seorang pria memang serius ingin bersama Anda, seharusnya ia mau lebih berusaha untuk mendekati Anda. Namun sebelum Anda menganggapnya kurang berani, coba cari tahu apa yang terjadi pada hubungannya di masa lalu. Apakah ia pernah ditolak dengan sadis, pernah menjalani hubungan yang sangat lama namun berakhir menyedihkan, apapun yang membuatnya ragu untuk mulai berkencan lagi.
Tahu enggak, kadang-kadang PDKT lebih dulu itu tidak selalu berarti Anda harus mengajaknya berkencan. Anda bisa mengawalinya dengan sesuatu yang mudah, seperti meneleponnya, atau mengajaknya ngobrol. Buat agar ia merasa nyaman dengan diri Anda, dan mengenal siapa sebenarnya diri Anda. Setelah itu, Anda bahkan tak perlu mengajaknya jalan bareng lebih dulu.
(Sumber :
Kesalahan Orangtua yang Bercerai bagi Anak
Luka yang terbentuk akibat perceraian kedua orangtua umumnya akan terus terbawa oleh anak hingga dewasa. Namun, rasa sakit ini bisa diminimalkan oleh kedua orangtua dengan menjaga tingkah laku sebaik-baiknya di depan anak. Berikut apa yang dikatakan M Gary Neuman, LMHC, terapis keluarga dan ahli masalah perceraian, kepadaWebMD mengenai kesalahan-kesalahan kepada anak yang dilakukan orangtua yang bercerai. 1. Menjadikan anak sebagai pengantar pesan
Neuman mengatakan, banyak orangtua yang bercerai mencoba berkomunikasi melalui anak, yang sebenarnya bisa membuat anak menyimpan stres emosional dan memaksa mereka bernegosiasi dengan situasi yang tak bisa diatasi oleh orangtuanya. Padahal, para orangtua, jika tak bisa berkomunikasi dengan satu sama lain secara langsung, maka bisa menggunakan media surat elektronik supaya tidak menempatkan anak di tengah situasi yang tak mengenakkan. Plus, saat menggunakan surat elektronik, kedua pihak akan berusaha mengirimkan kata-kata yang lebih baik karena hal itu bisa dijadikan barang bukti di pengadilan. Hindari pula bertengkar dengan si mantan di depan anak atau membiarkan si anak mendengar Anda menggunakan nada atau kata-kata kasar di dekat anak.
2. Menjadi terapis
Para remaja senang memegang kontrol, dan sebuah perceraian akan membuat dunia mereka seakan-akan runtuh. Jangan tergoda untuk mendiskusikan atau berbagi amarah Anda terhadap si mantan kepada anak tertua Anda. Kekhawatiran dan kebutuhan untuk mengontrol segalanya bisa membuat mereka mencoba memahami apa yang sedang Anda jalani. Namun, seharusnya kan Anda menjadi orangtua. Carilah konseling dan bantuan di luar keluarga, dan tetap buat batasan itu. Membuat anak sebagai pelarian Anda saat down atau marah bukan hal yang bijaksana.
3. Sok mengerti
Anak-anak butuh merasa seakan mereka dimengerti, terang Neuman. Setelah perceraian, perasaan mereka akan terombang-ambing. "Dengarkan mereka, jangan katakan apa yang seharusnya mereka pikirkan. Sebaiknya tahan diri Anda dari keinginan untuk mengkritik atau menjelek-jelekkan mantan pasangan Anda, karena toh, setengah diri si anak kan adalah keturunan si mantan juga, ia akan merasa "down". Meresponlah secara spesifik terhadap apa yang mereka katakan. Sebagai orangtua, Anda tak harus selalu memiliki solusi, Anda hanya perlu mendengar mereka.
Jangan pula mencoba mengedit ucapan mereka. Anda bisa meminta si anak untuk menuliskan perasaannya dan bagilah hal tersebut dengan mantan Anda, tetapi jika itu sudah diizinkan oleh si anak. Penyembuhan dari rasa sakit akan terbentuk dari hubungan yang penuh kasih, serta perasaan dimengerti.
4. Rasa nyaman saat ia pergi
Neuman mengungkapkan berulangkali kepada pasangan yang bercerai agar melepas anak yang akan pergi berakhir pekan dengan si mantan seakan-akan ia pergi berlibur dengan paman atau bibinya. "Saat Anda melepas ia pergi ke mantan Anda untuk akhir pekan, dan Anda tidak mengatakan apa pun, ia merasa harus membuat kompartemen dalam dunianya dan membagi perasaan. Sebaliknya, ketika ia pulang dan Anda menanyakan hal-hal yang ia lewati di sana, ia akan menempatkannya tepat di tengah-tengah, yang merupakan posisi sangat tak mengenakkan. Jadi, saat ia pulang atau akan pergi, ajak ia bicarakan hal-hal yang menyenangkan dan umum untuk meredakan ketegangan," papar Neuman.
5. Mencoba memperbaiki kesalahan Anda
Kebanyakan orangtua yang bercerai akan mengeraskan hati dan menjadi bingung antara perasaannya dan perasaan si anak. Anak-anak adalah makhluk yang sangat pemaaf, setidaknya hingga mereka mencapai usia remaja, usia ketika seseorang menyimpan rasa sakit cukup dalam. Jika melakukan kesalahan, maka amat penting bagi Anda untuk melakukan hal-hal berikut ini:
* Mengakui jika Anda melakukan kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf pada mereka. Mengungkapkan penyesalan bila Anda melakukan kesalahan akan membantu mengakrabkan Anda dengan si kecil. Penyampaian ini tentu dengan takaran yang tepat.
* Jelaskan secara detail apa kesalahan Anda dan berjanjilah untuk mengubah sikap Anda mulai dari saat itu.
* Sepakati sinyal yang aman dan spesifik, misal, katakan kepada si kecil untuk mengangkat tangannya jika ia mulai mendengar Anda mengkritik mantan pasangan Anda.
Mungkin akan terdengar klise. Namun, ketika Anda bercerai, si anak juga akan merasa sakit dan pedih. Anda dan si mantan masih memiliki tanggung jawab penuh untuk mengutamakan kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan anak-anak Anda karena menjadi orangtua adalah sebuah pekerjaan full time yang tak ada cutinya, kan?
(Info : http://female.kompas.com/read/2010/11/23/13194463/kesalahan.orangtua.yang.bercerai.bagi.anak )
Mode
No.587 in a limited series- The love for bows doesn't seem to end. SS11 portrays this trend on a gorgeous crepe de chine dress.


We now know for sure: white is the colour of the summer. In this precious version, the dress' simple shape gets embellished by feminine details such as the big black bow on the neck and the lace trimming details on the sides.
Black details on pure crepe de chine white. Bows take over the accessories as well.
Dress € 395
***
How to elongate your silhouette step one: it's true that white can be tricky, however when you apply "black" measures it shows the silhouette at its best.
Pochette € 495
Shoes € 310
***
The bag matches the bow of the dress and plays with zips.
The sandals borrow from the bag and take their bow a step forward.
A full-blown bow collection. Very feminine and chic.
Black Dress from the SS11 Collection.
The exclusive bow pochette present at the online store.
Styled by Yuri Ahn.
Langganan:
Postingan (Atom)










